Pontianak (Antara Kalbar) - WWF - Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kapuas Hulu melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat mengadakan seminar selama dua hari di Putussibau guna membahas pengembangan dan pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Danau Sentarum.

Menurut Ecotourism Development Officer, WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat, Hermas Rintik Maring saat dihubungi di Pontianak, Selasa, bahwa pengembangan ekowisata Kapuas Hulu dapat berjalan dengan baik karena adanya kolaborasi banyak pihak, baik pemerintah daerah, UPT taman nasional serta lembaga swadaya masyarakat.

Ia melanjutkan, sejak tahun 2005, WWF - Indonesia Program Kalbar telah mengemas isu pengembangan ekowisata di Kapuas Hulu.

Sedangkan untuk Dusun Meliau yang berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, telah dimulai diskusi bersama masyarakat sejak tahun 2008, dan tahun 2013 dengan Dusun Sungai Pelaik.

Ia menambahkan, berdasarkan acuan dan paparan informasi dari kegiatan yang pernah dilakukan, perlu ada inisiatif bersama dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, untuk menyusun rencana pengelolaan kawasan ekowisata berbasis masyarakat yang ada di kedua dusun tersebut.

"Sehingga akan ada rencana dan strategi implementasi yang dapat dijadikan acuan pengembangannya ke depan," kata Hermas..

Dusun Meliau dan Sungai Pelaik kaya akan sumber daya alam yang dapat dijadikan daya tarik sebagai obyek pariwisata. Baik wisata alam, petualangan, budaya dan atau wisata pendidikan serta wisata memancing karena didukung kondisi alam yang sangat memungkinkan, dimana terdapat lebih dari 50 jenis ikan byang sebagian besar dapat dikonsumsi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu Antonius menuturkan, saat ini pengembangan ekowisata di Indonesia sudah berjalan.

"Banyak orang mulai menyadari tentang kehidupan alam bebas dan masyarakat sekitarnya. Namun untuk pengembangannya ke depan masih dibutuhkan perencanaan dalam pengelolaan ekowisata itu sendiri, terutama yang berbasis masyarakat," kata dia.

Masyarakat lokal menjadi pemeran utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah yang menjadi tujuan atau destinasi wisata tersebut. "Inilah yang kita coba lakukan di Kapuas Hulu," ujar dia.

Asisten III Bidang Umum Setda Kabupaten Kapuas Hulu M Yusuf mengatakan bahwa Kabupaten Kapuas Hulu menempatkan pengembangan ekowisata sebagai salah satu pilar pembangunan daerah.

Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan tujuan RTRWK 2011-2031 yaitu menjadikan Kabupaten Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi di Beranda Depan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan melalui pengembangan ekowisata yang harmonis dengan agropolitan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan daerah tertinggal.

Sebagai tindak lanjut dari itu, Kabupaten Kapuas Hulu juga menetapkan tiga Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) yaitu KSK-TNDS dan sekitarnya untuk pengembangan Ekowisata, KSK Agropolitan dan KSK Koridor Biodiversity (antara TNDS - TNBK).

Kemudian, guna mengawal pengembangan ekowisata, melalui SK Bupati Nomor 298 Tahun 2012 dan Nomor 224 tahun 2014 telah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Ekowisata yang telah menghasilkan Roadmap Pengembangan Ekowisata Kapuas Hulu.

Setidaknya ada tiga atraksi utama, yaitu Budaya (Culture), Petualangan (Adventure) dan Alam (Nature), yang menjadi unggulan di kabupaten ini.

Pewarta:

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2015