Paoay, Filipina (Antara Kalbar/AFP) - Hampir tengah malam ketika Imelda Marcos menari dalam balutan gaun berlengan balon warna merah jambu yang menjadi ciri khasnya pada sebuah pesta di kota kecil Filipina.

Kota kecil itu merupakan basis para pemilih yang masih sangat menghormati suaminya, diktator Ferdinand Marcos yang telah meninggal dunia.

Di usia yang tidak lagi muda --sebagian besar orang seusianya mungkin telah berakhir di panti jompo--, wanita berusia 83 tahun yang tak kenal lelah itu justru tengah melakukan kampanye untuk mempertahankan kursinya di parlemen dalam pemilihan umum jangka menengah pekan depan dan dalam upaya melanjutkan kebangkitan politik yang luar biasa keluarganya.

"Ini lucu karena semakin tua saya,  saya semakin berkomitmen dan semakin merasa  bisa melakukannya," kata Imelda pada akhir pekan di rumah keluarganya di sebuah pedesaan di utara negara itu sebelum menghadiri sebuah pesta tidak jauh dari situ.

Janda Ferdinand Marcos itu dinilai sudah pasti menang setelah terpilih pertama kali menjadi anggota Kongres pada tahun 2010, mewakili setengah populasi dari Provinsi Ilocos Norte yang para pemilihnya tetap setia kepada keluarga itu sepanjang dasawarsa penuh gejolak politik.

Tapi Imelda mengincar hal yang lebih besar - yaitu kembali ke istana kepresidenan sebagai ibu negara melalui putranya, Ferdinand Marcos Jnr, yang duduk nyaman di Senat dan mengincar posisi tertinggi pada pemilihan umum 2016.

"Anda selalu memiliki impian untuk anak-anak Anda, dan semakin mereka dapat melayani rakyat , semakin baik, "kata Imelda ketika ditanya tentang ambisi anak karismatiknya untuk menjadi presiden.

Ferdinand Jnr, yang dikenal dengan julukan "Bongbong", memiliki peluang baik untuk mencalonkan diri sebagai presiden setelah sepertiga pemilih nasional memilihnya untuk kursi senat untuk masa jabatan enam tahun pada tahun 2010.

Perjalanan politik mereka telah jauh dimulai sejak tahun 1986, ketika jutaan orang turun ke jalan dalam revolusi tak berdarah "kekuatan rakyat" guna mengakhiri pemerintahan keluarga itu yang telah berlangsung dua dasawarsa dan memaksa mereka tinggal di pengasingan di Amerika Serikat.

Ferdinand Marcos, istri dan kroni-kroninya dituduh mencuri miliaran dolar. Pegiat hak asasi manusia mengatakan ribuan kritikus rezim dibunuh atau dipenjara, sementara hukum darurat militer juga memberangus pers.

Koleksi sepatu, kehidupan mewah, dan banyak hal megah lainnya telah melingkupi Imelda  sementara mayoritas rakyat Filipina menderita kemiskinan parah sebagai dampak dari pemerintahan suaminya.

Tetapi upaya pemerintah untuk memburu kekayaan  Marcos yang merupakan hasil penggelapan tampak menurun, dan keluarga itu telah mampu mementahkan setiap tuduhan korupsi terhadap mereka.

Filipina dijalankan oleh sejumlah kecil keluarga politik dan dalam banyak hal, keluarga Marcos telah diterima kembali ke kalangan elit.

Satu dari sedikit penghiburan bagi para kritikus keluarga itu adalah Ferdinand Marcos meninggal dunia dalam aib saat mengasingkan diri di Hawaii, tiga tahun setelah revolusi.

Dalam pesta di Kota Paoay pada Sabtu malam, Imelda mengenang kembali masa kejayaannya saat ia diarak keliling lantai dansa dalam gaun malam merah muda dengan bahu terbuka dan lengan balon.

Di sela-sela tarian dalam malam yang pengap itu, seorang politisi laki-laki muda yang tengah mencalonkan diri untuk jabatan lokal duduk disamping Imelda sambil memegang erat sebuah kipas merah.      
   
Politisi lainnya berdiri di atas panggung untuk secara terbuka mengekspresikan dukungan mereka saat dia menyampaikan pidato utama  malam itu - meskipun bertele-tele.

Pagi hari berikutnya Imelda akan mulai melakukan perjalanan keliling distrik untuk menunjukkan dukungan publiknya pada  sekelompok wartawan lokal dan internasional melalui serangkaian peristiwa kampanye yang diatur.

Di setiap kota, para media dipandu ke klinik kecil berdinding beton yang telah ia bangun di distriknya untuk memberikan layanan kesehatan dan pelatihan kerajinan bagi buruh tani.

Selama kunjungan Imelda akan memeluk bayi dan berbagi kue lokal dengan perempuan tua sementara dua pembantunya yang membawa tas bahu merah membagi-bagikan mainan plastik "superhero" dan boneka untuk anak-anak, dan uang bagi sejumlah  pendukung dewasa.

Honesia Aknam, seorang wanita tua bergigi hitam, memeluk idola politiknya itu di kota bukit Nueva Era dan kemudian memamerkan uang 500 peso atau 12 dolar AS yang menurutnya diberikan oleh para pembantu Imelda padanya.

"Saya sudah lama tidak melihatnya maka saya datang kemari. Dia tampak masih cantik seperti wanita muda, "kata Aknam.

Pendeta Katolik Danilo Laeda mengatakan keluarga tersebut benar-benar disukai di kawasan kering yang terbakar matahari itu karena pembangunan jalanan yang bagus dan infrastruktur lain di era Marcos.
   
"Dan mereka melihat Bongbong sebagai personifikasi dari ayahnya," kata  Laeda, pastor paroki kota San Nicolas.

Namun, Laeda mengakui bahwa ada ketegangan terkait rumor jika keluarga Marcos memberikan banyak uang pada para pemilih secara langsung untuk membeli dukungan mereka guna mengklain jabatan lokal.

Pesaingnya, Ferdinand Ignacio mengklaim Imelda Marcos secara ilegal menghabiskan dana besar dari pungutan pertanian yang dikumpulkan dari produk tembakau menjelang pemilihan untuk proyek seperti klinik dan bus bagi petani.

"Mereka (Marcos) tidak populer, mereka adalah orang-orang berduit. Mereka membeli orang di sini, itu sebabnya mereka memenangkan pemilihan umum," kata Ignacio, seorang pengacara berusia 49 tahun dari Paoay.

Marcos membantah tuduhan saingannya terkait pembelian suara, penggunaan ilegal dana pemerintah dan korupsi.

"Saya selalu memandang kritikan sebagai sebuah nasihat, tapi kadang-kadang saran atau kritik itu konyol .... kita tidak berkubang dalam apa yang tidak positif, " katanya.

(G.N.C. Aryani)


Editor : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026