Pontianak (ANTARA) - Plt Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar, Abdul Rakhman mengatakan, remaja merupakan bagian penting dari Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Kalbar.
"Remaja telah ikut terlibat dalam program KKBPK sejak tahun 2005 sebagai respons atas komitmen untuk memperhatikan kesehatan dan hak-hak reproduksi. Pada 2007 mulai dibentuk Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR)," kata Abdul Rakhman saat membuka kegiatan Temu Kerja Pengelolaan GenRe kabupaten/kota se-Kalbar 2020 di Pontianak, Kamis.
"Nama itu kemudian berkembang menjadi PIK Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M) dan sekarang menjadi PIK Remaja dalam rangka Pembinaan Ketahanan Remaja sebagai bagian dari upaya Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga," katanya.
Ia mengatakan, sebagai wadah kegiatan dari remaja, oleh remaja dan untuk remaja (youth center) dan layanan ramah remaja (youth friendly services).
"PIK Remaja mencetak pendidik sebaya (peer educator) dan konselor sebaya (peer counselor) untuk meminimalisir pengaruh negatif kelompok sebaya dan menjadikan kelompok sebaya sebagai sumber informasi yang benar," katanya.
Sementara itu, Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wadah kegiatan orang tua yang memiliki remaja, dirancang untuk menciptakan keluarga sebagai lingkungan yang mampu mendukung dan mengarahkan tumbuh kembang remaja.
Ia menambahkan, hasil kajian menunjukkan bahwa kelompok sebaya dan orangtua (terutama ibu) menjadi tempat paling nyaman bagi remaja untuk berdiskusi tentang kesehatan reproduksi yang dialaminya.
Ia mengungkap, berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, ada 62 persen remaja perempuan dan 51 persen remaja laki-laki berdiskusi kesehatan reproduksi dengan temannya, dan 53 persen remaja perempuan serta 11 persen remaja laki-laki berdiskusi kesehatan reproduksi dengan ibunya.