Pontianak (ANTARA) - Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Ignatius I.K., menyampaikan ketersediaan kebutuhan komoditas peternakan strategis seperti ayam ras pedaging dan telur ayam ras berada dalam situasi aman berdasarkan proyeksi neraca produksi tahunan, sehingga kebutuhan masyarakat untuk Lebaran masih bisa terpenuhi.
"Ketersediaan hewan ternak beserta produk turunannya di Provinsi Kalimantan Barat dipastikan dalam kondisi mencukupi bahkan berlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Meski demikian, pasokan daging sapi masih belum mampu memenuhi kebutuhan daerah sehingga ketergantungan terhadap suplai dari luar wilayah tetap terjadi," kata Ignatius di Pontianak, Rabu.
Ia menjelaskan, produksi daging ayam ras di Kalbar masih sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sepanjang tahun. Bahkan, terdapat kelebihan produksi yang cukup signifikan.
"Jika mengacu pada proyeksi neraca produksi tahunan, daging ayam ras masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Bahkan terdapat surplus lebih dari 12 ribu ton dalam setahun," tuturnya.
Untuk komoditas telur ayam ras, produksi daerah diperkirakan mencapai sekitar 22.779 ton per tahun. Volume tersebut dinilai memadai guna memenuhi permintaan pasar domestik.
Ignatius menuturkan, estimasi produksi itu juga telah memperhitungkan kenaikan konsumsi yang dipicu pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong peningkatan kebutuhan protein hewani.
Namun demikian, ia mengakui dalam periode jangka pendek seperti bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri, permintaan masyarakat biasanya meningkat tajam sehingga berpotensi menimbulkan kekurangan pasokan sementara.
"Dalam situasi musiman seperti puasa dan menjelang lebaran, lonjakan permintaan memang kerap terjadi dan dapat menyebabkan defisit sementara. Tetapi kami optimistis kebutuhan tetap bisa dipenuhi," katanya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan komoditas sapi potong masih menjadi tantangan utama. Produksi ternak sapi lokal saat ini baru mampu memenuhi sekitar 60 persen dari total kebutuhan Kalbar.
"Khusus sapi potong masih menjadi pekerjaan rumah karena produksi lokal hanya mencukupi sekitar 60 persen. Sisanya sekitar 40 persen dipasok dari Pulau Jawa dan Madura, termasuk dalam bentuk daging beku," kata dia.
Keterbatasan produksi lokal tersebut, lanjutnya, tidak sebanding dengan pertumbuhan permintaan yang terus meningkat setiap tahun, terutama saat momentum hari besar keagamaan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih produk daging yang beredar di pasaran, khususnya daging beku impor maupun antardaerah.
"Masyarakat sebaiknya memastikan produk memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Produk ber-NKV umumnya telah melewati proses higienis dan pengawasan sesuai standar keamanan pangan," katanya.
Pewarta: Rendra OxtoraUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026