Desa Ulak Pauk Kecamatan Embaloh Hulu daerah perbatasan Indonesia-Malaysia wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat meluncurkan buku perdana terkait adat dan tradisi Suku Dayak Tamambalo di daerah setempat.

" Kami membuat sebuah buku itu agar generasi muda tahu dengan adat istiadat dan tradisinya sendiri, dengan harapan anak muda saat ini bisa turut serta melestarikan adat istiadat peninggalan nenek moyang suku Dayak Tamambalo yang selama ini hanya secara lisan," kata salah satu penulis buku Adat dan Tradisi Dayak Tamambalo Angela Kasian, dihubungi ANTARA, di Putussibau ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Rabu.

Baca juga: Panduan prokes dalam tiga bahasa di Kalbar salah satunya Dayak Tamambalo
Baca juga: Kain tenun khas Dayak Iban Kapuas Hulu terjual Rp13 juta lebih

Disampaikan Angela, buku itu mengangkat tentang kehidupan adat dan tradisi Dayak Tamambalo khususnya di Desa Ulak Pauk.

Salah satu judul dalam buku Adat dan Tradisi yaitu " Ipalaloang adat tu, anyap bea asannu" yang artinya "Sepelehkan adatmu, hilang identitas mu".

Menurut dia, sejak ratusan tahun masyarakat adat Dayak Tamambalo hidup dengan adat dan tradisi peninggalan nenek moyang hanya cerita mulut ke mulut dan dilakukan sesuai kebudayaan.
 
Desa Ulak Pauk Kecamatan Embaloh Hulu daerah perbatasan Indonesia-Malaysia wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat meluncurkan buku Adat dan Tradisi Dayak Tamambalo. (Istimewa)


Sehingga, dengan adanya buku Adat dan Tradisi Dayak Tamambalo itu tidak hanya mendengar kisahnya secara lisan, namun tertulis untuk bisa dilestarikan oleh generasi mendatang.

" Dalam menulis buku itu kami ada tim, dengan diperkuat berbagai sumber berkompeten seperti Temenggung, tokoh adat, tetua-tetua kampung dan sejumlah pihak lainnya," ucap Angela.

Disebutkan Angela, proses pembuatan buku itu dibiayai dana desa sebesar Rp13 juta.

Kepala Desa Ulak Pauk Aloysius Sukarno mengatakan adat dan tradisi Dayak Tamambalo sangat penting dituangkan dalam sebuah tulisan, karena perkembangan zaman jangan sampai adat dan tradisi terkikis zaman.

Baca juga: 167 rumah warga Kapuas Hulu dianggarkan sebesar Rp4,2 miliar

"Nenek moyang kami dulu sangat kental dengan adat dan tradisi, namun kondisi saat ini banyak tradisi terlupakan, makanya kami sepakat untuk menuangkan adat dan tradisi peninggalan nenek moyang kami ke dalam buku, agar bisa diingat dan dilestarikan generasi mendatang," kata Sukarno.

Dikatakan Sukarno, untuk saat ini buku tersebut dicetak 100 exampler, dengan harapan ke depannya buku tersebut terus dikembangkan serta menjadi dasar dalam generasi Suku Dayak Tamambalo dalam melaksanakan dan menjalani adat dan tradisi peninggalan nenek moyang Dayak Tamambalo.

Baca juga: Suara Temenggung Dayak Tamambaloh di batas negeri untuk Polri
Baca juga: Masyarakat Tamam Embaloh Nyatakan Sikap Jelang Pilkada
 

Upaya Masyarakat Adat Dayak Lestarikan Budaya

 

Pewarta: Teofilusianto Timotius

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2021