Sukadana (Antara Kalbar) - Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara melalui Bidang Kebudayaan belum lama ini melihat kondisi makam Tok Bongkok di Desa Riam Berasap Jaya, kecamatan Sukadana.

Tim yang dipimpin Kepala Bidang Kebudayaan, Jumadi Gading, M.Si datang untuk memastikan kalau makam yang "dikeramatkan" oleh warga setempat itu sebagai salah satu makam tua yang bisa diusulkan sebagai situs sejarah.

Jumadi Gading bersama sejumlah staf masuk ke lokasi makam yang terletak di Dusun Pematang Baros dengan berjalan kaki sekitar 200 meter dari jalan nasional Siduk-Nanga Tayap. Ia didampingi Kepala Desa Riam Berasap Jaya, Sy Iskandar, anggota BPD Riam Berasap Jaya dan sejumlah masyarakat setempat.

Disana, Jumadi pun bertanya dan mencoba menggali sejarah makam yang disebut Tok Bongkok tersebut. Hanya saja, sedikit informasi yang dapat digali dari warga setempat terkait keberadaan makam yang hanya tunggal itu.

Warga setempat, Budi Ganesa mengatakan kalau makam itu sudah berusia ratusan tahun. Ia hanya mendengar dari mulut ke mulut kalau makam yang disebut Tok Bongkok itu adalah berasal dari Brunei Darussalam. "Makam ini sudah ratusan tahun, dan kabarnya ia dari Brunai," ujar Budi.

Sementara Kepala Desa Riam Berasap Jaya, Sy Iskandar membenarkan kalau makam Tok Bongkok ini sejak dulu dikeramatkan. Bahkan, tidak jarang warga maupun orang dari luar datang untuk ziarah.

"Kita pun tidak banyak informasi mengenai makam ini. Yang kita tahu dari orang-orangtua, ini makam Tok Bongkok dan sudah ada ratusan tahun silam. Dan sebagian orang menganggap ini makam keramat," paparnya.

Dari informasi yang terbilang minim itu, Jumadi akan mencoba menggali lebih jauh dari sumber lain mengenai makam Tok Bongkok. "Akan kita gali informasi makam ini, bisa jadi Tok Bongkok yang katanya dari Brunei ini adalah penyebar agama," kata Jumadi mencoba menerka.

Jumadi pun bisa memastikan kalau makam Tok Bongkok ini sudah ratusan tahun. Sebab, dari nisan makam yang terbuat dari batang kayu belian (ulin) itu sudah mengecil. "Kalau ratusan tahun masuk akal, sebab bisa dilihat dari nisan yang kayunya sudah mengecil. Kalau kayu belian sudah mengecil seperti ini sudah dapat dipastikan ratusan tahun," ujarnya seraya memegang tiang nisan.

Terdapat enam nisan pada makam tok Bongkok yang dipagar kayu belian serta dicat kuning itu. Masing-masing terdapat tiga tiang. Nisan tersebut diperbarui dan tidak menghilangkan nisan yang lama. "Warga mengganti tiang nisan yang baru dan tidak mencabut tiang nisan yang lama, sebab warga merasa khawatir mencabut tiang nisan yang lama," timpal Budi.

Usai menijau makam Tok Bongkok, Jumadi dan tim melanjutkan kunjungan ke Dusun Semanai, Desa Simpang Tiga. Disana, mereka melihat keberadaan makam yang dikabarkan sebagai makam tua.

Terdapat lebih seratus makam di Semanai, dan hampir seluruh makam terbuat dari batu. Menurut Kasi Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Desa Simpang Tiga, Sahperi, makam tersebut disebut warga sebagai makam tua. Kondisinya pun memprihatinkan lantaran ditutupi rumput dan pohon-pohon rindang.


Pewarta: Doel Wibowo
Editor : Teguh Imam Wibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2026