Jakarta (ANTARA) - Founder Institut Energi Pertambangan dan Industri Strategis (INPIST) Lukman Malanuang menilai PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memiliki peluang untuk menjadi perusahaan global.
Dalam hal itu, terdapat beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian perusahaan.
“PT Antam wajib memiliki rapor SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), rapor ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola), dan rapor transparansi. Akuntabilitas dan partisipasi harus tinggi,” kata Lukman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Menurut Lukman, perusahaan pertambangan perlu memegang prinsip tata kelola yang baik (GCG) dalam pengelolaan mineral dan batu bara (minerba). Citra perusahaan dapat terpengaruh oleh cara perusahaan menangani masalah sosial.
“Sebagai contoh, perusahaan harus aktif menangani isu-isu, hak-hak, dan tantangan yang dihadapi oleh karyawan dan buruh. Kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dan memberikan kontribusi positif pada isu-isu sosial menjadi faktor kunci dalam evaluasi standar ini,” jelas dia.
Terlebih, UU Minerba tegas menunjukkan keberpihakan terhadap pembangunan daerah dan masyarakat. Dia mengutip pasal 106 dan 108 yang masing-masing menjelaskan soal mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat serta menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Di sisi lain, Center Eksekuitif Center for Energy Security Ali Ahmudi Achyak menyoroti pengembangan teknologi merupakan salah satu aspek penting dalam strategi perusahaan tambang untuk mencapai visi sebagai perusahaan global.
“Teknologi selain dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas, tetapi juga mendukung komitmen terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan,” jelas dia.
Diskusi mengenai prospek PT Antam menuju perusahaan global berlangsung dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Yayasan Rumah Energi dan PT Antam.
Anggota DPR Nasyirul Falah Amru berpendapat FGD seperti itu bisa menjadi sarana pencerahan publik terkait isu pertambangan dan energi.