Jakarta (ANTARA Kalbar) - Penyakit mematikan akibat infeksi bakteri dari kotoran binatang
atau yang lebih dikenal dengan sebutan leptospirosis, tidak memiliki
gejala khas sehingga harus diwaspadai, ujar dokter spesialis kulit dan
kelamin dari klinik Rumah Puan, dr. Amaranila Drijono, SpKK.
"Penyakit
ini hanya memiliki gejala umum seperti sakit flu yaitu demam, mual,
nyeri, sakit kepala, serta meriang," jelas Nila kepada
Antaranews di Jakarta, Jumat.
Nila mengemukakan bahwa penyakit
yang sering muncul pada saat musim hujan terutama di saat banjir ini,
memiliki masa inkubasi hingga 29 hari.
Lebih lanjut Nila menjelaskan bahwa leptospirosis ditakuti bukan
hanya karena menyebabkan gatal-gatal pada kulit, namun karena penyakit
ini merupakan jenis penyakit sistemik.
"Bakteri bisa masuk ke dalam peredaran darah melalui selaput
lendir manusia, maka dengan mudah bisa menyerang hati, ginjal, serta
paru-paru. Itulah yang membahayakan," kata Nila.
Di Indonesia hewan penular utama penyakit ini adalah tikus yang menularkan leptospirosis melalui kotoran dan air kencingnya.
"Pada saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di
liang-liang tanah akan ikut keluar dan berkeliaran di sekitar manusia.
Air banjir pun bercampur dengan kotoran tikus," kata Nila.
Untuk menghindari timbulnya penyakit leptospirosis, Nila
mengimbau agar masyarakat melakukan antisipasi yaitu dengan selalu
menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
"Hindari bermain air saat terjadi banjir, terutama bila ada
luka, dan selalu gunakan pelindung tubuh seperti sepatu, pakaian, serta
sarung tangan," ujar Nila.
Selain itu, sebisa mungkin korban banjir segera berobat ke
sarana kesehatan bila menderita sakit dengan gejala panas tiba-tiba,
sakit kepala dan menggigil.
(M048)
Waspadai Leptospirosis Yang Tidak Disertai Gejala Khas
Senin, 21 Januari 2013 8:38 WIB