Pontianak (ANTARA) - Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan catatan kinerja yang solid dan beragam capaian signifikan. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Harian Kepala Wilayah BEI Kalimantan Barat (Kalbar), Ardhy Anto dalam acara Media Update Kalbar 2026 bersama Forum Jurnalis Ekonomi Khatulistiwa (Fojekha) yang diselenggarakan di Novotel Pontianak, Jumat (06/02).
“Pasar modal Indonesia bergerak sangat dinamis sepanjang 2025, ditandai dengan peningkatan partisipasi masyarakat dan berbagai rekor baru yang dicapai,” ungkap Ardhy.
Secara nasional, jumlah investor pasar modal (saham, obligasi, reksa dana) tumbuh 36,67% menjadi 20,3 juta investor. Khusus untuk investor saham, terjadi penambahan lebih dari 2,2 juta investor baru, menjadi total 8,59 juta investor. Capaian ini didukung oleh lebih dari 47.000 kegiatan edukasi yang diselenggarakan BEI secara langsung maupun daring, dengan total jangkauan peserta melebihi 26 juta orang.
Di sisi pencatatan efek, BEI berhasil mendorong 26 perusahaan melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) dengan dana dihimpun mencapai Rp18,1 triliun. Hingga akhir tahun, total perusahaan tercatat di BEI mencapai 956 emiten. Selain itu, terdapat pencatatan 181 obligasi/sukuk, 3 ETF (Exchange-Traded Fund), dan ratusan instrumen lainnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 22,10% di level 8.644,26 dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp18,06 triliun. Pasar juga mencatat 24 kali all-time high dan kapitalisasi pasar pernah menyentuh rekor Rp16.000 triliun.
Kalimantan Barat Ikut Menyumbang Pertumbuhan Positif
Tren positif turut dirasakan di level regional. Jumlah investor di Kalimantan Barat melonjak 71.173 orang menjadi total 258.248 investor pada akhir 2025. Untuk mendukung edukasi, BEI telah menambah 6 galeri investasi baru, sehingga totalnya menjadi 32 galeri yang tersebar di berbagai kota/kabupaten.
“Sepanjang 2025, kami telah melaksanakan 924 kegiatan edukasi dengan melibatkan 171.396 peserta dari berbagai lapisan masyarakat,” jelas Ardhy. Ia menambahkan bahwa upaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan keuangan dan investasi yang sehat.
Target 2026 dan Workshop Go Public
Menyongsong tahun 2026, BEI menargetkan penambahan 2 juta investor baru, RNTH Rp15 triliun per hari, dan pencatatan 555 efek baru dari berbagai instrumen. Untuk mendukung target tersebut, Kanwil BEI Kalbar telah menyiapkan sejumlah program unggulan, antara lain:
1. Sinergi lebih erat dengan stakeholder industri keuangan.
2. Kampanye penggunaan aplikasi IDX Mobile untuk akses informasi real-time gratis.
3. Peningkatan kegiatan edukasi daring untuk jangkauan yang lebih luas.
4. Sosialisasi produk investasi non-saham sebagai alternatif.
5. Pendampingan kepada perusahaan potensial daerah yang tertarik memanfaatkan pasar modal.
Sejalan dengan komitmen tersebut, hari ini juga dilaksanakan “Workshop Go Public” dengan tema “Go Big With Go Public”. Workshop yang diselenggarakan atas kerja sama BEI dengan Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan (Gakeslab) Kalbar, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Kalbar, dan HIPMI Kota Pontianak ini menghadirkan narasumber dari BEI, perantara efek, dan perusahaan yang telah berhasil go public.
Materi yang disampaikan meliputi manfaat, proses, dan persiapan IPO, serta berbagi success story dari perusahaan yang telah tercatat di BEI. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak perusahaan lokal untuk tumbuh besar melalui pasar modal.
“Kami berkomitmen penuh untuk terus mendorong inklusi keuangan dan pembiayaan alternatif melalui pasar modal, baik di tingkat nasional maupun khususnya di Kalimantan Barat,” tutup Ardhy Anto.
